Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisis Harga Wajar Berdasarkan Pada Laporan Keuangan ASII Triwulan IV Tahun 2024

PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu emiten unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bergerak di berbagai sektor, terutama otomotif, alat berat, dan jasa keuangan. Sebagai investor, kita ingin mengetahui apakah harga saham ASII saat ini masih layak untuk dibeli atau justru sudah overvalued. Untuk itu, kita akan menganalisis harga wajar saham ASII menggunakan beberapa metode valuasi, yaitu Dividend Discount Model (DDM), Discounted Cash Flow (DCF), serta perbandingan dengan Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER) industri.


PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu emiten unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bergerak di berbagai sektor, terutama otomotif, alat berat, dan jasa keuangan. Sebagai investor, kita ingin mengetahui apakah harga saham ASII saat ini masih layak untuk dibeli atau justru sudah overvalued. Untuk itu, kita akan menganalisis harga wajar saham ASII menggunakan beberapa metode valuasi, yaitu Dividend Discount Model (DDM), Discounted Cash Flow (DCF), serta perbandingan dengan Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER) industri.


1. Metode Dividend Discount Model (DDM)

Metode DDM digunakan untuk menilai harga wajar saham berdasarkan dividen yang akan diterima investor di masa depan.

Asumsi yang digunakan:

  • Dividen per Saham (DPS) Tahun 2024: Rp406

  • Tingkat Pertumbuhan Dividen (g): 5% per tahun

  • Tingkat Diskonto (k): 10% per tahun

Perhitungan: Harga wajar saham menurut DDM dihitung dengan rumus:

P = D1 / (k - g)

Di mana:

  • D1 = DPS tahun berikutnya = Rp406 × (1 + 5%) = Rp426,30

  • k = 10%

  • g = 5%

Sehingga:

P = Rp426,30 / (0,10 - 0,05) = Rp426,30 / 0,05 = Rp8.526

Kesimpulan: Berdasarkan DDM, harga wajar saham ASII adalah Rp8.526 per saham.


2. Metode Discounted Cash Flow (DCF)

Metode DCF menilai saham berdasarkan proyeksi arus kas bebas (Free Cash Flow) di masa depan yang didiskontokan ke nilai saat ini.

Asumsi yang digunakan:

  • Free Cash Flow (FCF) Tahun 2024: Rp20 triliun

  • Tingkat Pertumbuhan FCF: 5% per tahun

  • Weighted Average Cost of Capital (WACC): 10%

  • Jumlah Saham Beredar: 4,8 miliar saham

Perhitungan: Nilai perusahaan (Enterprise Value) dihitung dengan rumus:

EV = (FCF × (1 + g)) / (WACC - g)

EV = (Rp20.000.000.000.000 × 1,05) / (0,10 - 0,05)

EV = Rp21.000.000.000.000 / 0,05 = Rp420.000.000.000.000

Jika total utang Astra adalah Rp100 triliun, maka nilai ekuitas:

Nilai Ekuitas = EV - Utang = Rp420 triliun - Rp100 triliun = Rp320 triliun

Harga wajar per saham:

Harga Wajar = Rp320.000.000.000.000 / 4.800.000.000 = Rp66.667

Kesimpulan: Berdasarkan DCF, harga wajar saham ASII adalah Rp66.667 per saham (tidak relevan).


3. Perbandingan dengan PBV dan PER Industri

a. Price to Book Value (PBV):

  • PBV Rata-rata Industri Otomotif: 1,5x

  • Book Value per Share (BVPS) ASII: Rp5.000

Perhitungan:

Harga Wajar = PBV × BVPS = 1,5 × Rp5.000 = Rp7.500

b. Price to Earnings Ratio (PER):

  • PER Rata-rata Industri Otomotif: 12x

  • Earnings per Share (EPS) ASII: Rp600

Perhitungan:

Harga Wajar = PER × EPS = 12 × Rp600 = Rp7.200

Kesimpulan:

  • Berdasarkan PBV, harga wajar saham ASII adalah Rp7.500 per saham.

  • Berdasarkan PER, harga wajar saham ASII adalah Rp7.200 per saham.


4. Rangkuman Hasil Valuasi:

MetodeHarga Wajar (Rp)
DDM8.526
DCF66.667
PBV Industri7.500
PER Industri7.200

Catatan Penting:

  • DCF memberikan hasil yang sangat tinggi karena asumsi pertumbuhan arus kas yang agresif.

  • DDM lebih cocok jika Astra terus konsisten membayar dividen.

  • PBV dan PER mencerminkan harga saham berdasarkan rata-rata industri.


5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari hasil valuasi ini, harga saham ASII bisa dikatakan wajar jika berada di kisaran Rp7.200 - Rp8.526 per saham, mengacu pada metode PBV, PER, dan DDM.

Saat ini, jika harga saham ASII di bawah Rp7.200, maka sahamnya bisa dianggap undervalued (murah dan menarik untuk dibeli).

Namun, jika harga ASII di atas Rp8.526, maka sahamnya bisa dianggap overvalued (terlalu mahal dibandingkan fundamentalnya).

Insight untuk Investor:

✅ Jika Anda adalah investor dividen, metode DDM menunjukkan bahwa harga saham saat ini masih menarik.
✅ Jika Anda adalah investor jangka panjang, metode DCF memberikan gambaran potensi pertumbuhan Astra di masa depan.
✅ Jika Anda ingin membandingkan dengan industri, PBV dan PER adalah acuan yang lebih konservatif.


💬 Bagaimana menurut Anda? Apakah harga saham ASII saat ini masih menarik untuk dibeli atau sudah overvalued? Diskusikan di kolom komentar!

Sumber: Laporan Keuangan TW IV ASII 2024
dapat diakses pada: FinancialStatement-2024-Tahunan-ASII.pdf

Posting Komentar untuk "Analisis Harga Wajar Berdasarkan Pada Laporan Keuangan ASII Triwulan IV Tahun 2024"