Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisis Laporan Neraca Keuangan Pada Laporan Keuangan ASII Triwulan IV Tahun 2024

PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, terutama otomotif, alat berat, jasa keuangan, dan infrastruktur. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui seberapa sehat keuangan Astra adalah dengan melihat laporan neracanya (balance sheet).  Dalam artikel ini, kita akan membahas laporan neraca Astra secara sederhana dan mudah dipahami, bahkan bagi yang belum terbiasa membaca laporan keuangan.

PT Astra International Tbk (ASII) adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, terutama otomotif, alat berat, jasa keuangan, dan infrastruktur. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui seberapa sehat keuangan Astra adalah dengan melihat laporan neracanya (balance sheet).

Dalam artikel ini, kita akan membahas laporan neraca Astra secara sederhana dan mudah dipahami, bahkan bagi yang belum terbiasa membaca laporan keuangan.


1. Apa Itu Laporan Neraca?

Laporan neraca adalah ringkasan tentang apa yang dimiliki (aset), apa yang harus dibayar (liabilitas/utang), dan berapa kekayaan bersih perusahaan (ekuitas). Ibaratnya, laporan neraca seperti catatan keuangan pribadi:

  • Aset = Semua yang Anda miliki, seperti tabungan, rumah, dan kendaraan.

  • Liabilitas = Semua utang Anda, seperti cicilan rumah, kartu kredit, atau pinjaman bank.

  • Ekuitas = Kekayaan bersih yang tersisa setelah semua utang dibayar.

Jika aset lebih besar dari liabilitas, berarti kondisi keuangan sehat. Jika sebaliknya, berarti perusahaan punya masalah keuangan.

Sekarang, mari kita lihat laporan neraca Astra International!


2. Total Aset Astra: Seberapa Kaya Perusahaan Ini?

Aset adalah semua kekayaan Astra, mulai dari uang tunai, piutang, hingga pabrik dan investasi. Pada akhir 2024, Astra memiliki:

  • Total Aset: Rp 472,93 triliun (naik dari Rp 445,41 triliun di 2023)
    📌 Artinya: Astra semakin besar karena asetnya bertambah 6,2% dibanding tahun lalu.

Aset dibagi menjadi dua jenis:

a) Aset Lancar (Harta yang Bisa Dicairkan Cepat)

Aset lancar adalah harta yang bisa digunakan atau dicairkan dalam waktu kurang dari satu tahun, seperti uang di bank dan persediaan barang.

  • Aset Lancar: Rp 176,93 triliun (naik dari Rp 166,19 triliun)

    • Kas dan Setara Kas: Rp 48,44 triliun (naik dari Rp 41,14 triliun)
      ➝ Astra memiliki lebih banyak uang tunai, yang berarti keuangan mereka stabil.

    • Piutang Usaha (Tagihan ke Pelanggan): Rp 27,70 triliun (stabil dibanding tahun lalu)

    • Persediaan Barang: Rp 35,51 triliun (turun dari Rp 36,91 triliun)
      ➝ Astra berhasil menjual lebih banyak barang atau lebih efisien dalam mengelola stok.

b) Aset Tidak Lancar (Investasi Jangka Panjang)

Aset ini terdiri dari investasi, pabrik, tanah, dan peralatan yang digunakan Astra untuk menjalankan bisnisnya.

  • Aset Tidak Lancar: Rp 295,99 triliun (naik dari Rp 279,22 triliun)

    • Investasi di Perusahaan Lain: Rp 66,13 triliun (naik dari Rp 61,35 triliun)

    • Properti, Pabrik, dan Peralatan: Rp 78,73 triliun (naik dari Rp 72,89 triliun)

📌 Kesimpulan: Astra semakin kaya, memiliki lebih banyak uang tunai dan investasi jangka panjang.


3. Total Liabilitas Astra: Seberapa Besar Utangnya?

Liabilitas adalah semua kewajiban atau utang Astra, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

  • Total Liabilitas: Rp 201,43 triliun (naik dari Rp 194,98 triliun)
    📌 Artinya: Utang Astra bertambah, tetapi masih dalam batas wajar dibandingkan pertumbuhan aset.

a) Liabilitas Jangka Pendek (Harus Dibayar dalam 1 Tahun)

  • Total Liabilitas Jangka Pendek: Rp 133,30 triliun (naik dari Rp 125,02 triliun)

    • Utang Bank Jangka Pendek: Rp 11,82 triliun (naik dari Rp 6,61 triliun)

    • Utang Usaha (Tagihan yang Harus Dibayar ke Pemasok): Rp 40,05 triliun (stabil dibanding tahun lalu)

b) Liabilitas Jangka Panjang (Harus Dibayar dalam Lebih dari 1 Tahun)

  • Total Liabilitas Jangka Panjang: Rp 68,13 triliun (turun dari Rp 69,96 triliun)

    • Utang Obligasi Jangka Panjang: Rp 11,71 triliun (naik dari Rp 10,42 triliun)

    • Utang Bank Jangka Panjang: Rp 38,14 triliun (turun dari Rp 42,72 triliun)

📌 Kesimpulan: Astra masih bisa mengelola utangnya dengan baik, meskipun utang jangka pendek meningkat.


4. Total Ekuitas: Seberapa Stabil Modal Astra?

Ekuitas adalah nilai bersih yang tersisa setelah semua utang dibayar. Ini menunjukkan kekayaan pemegang saham Astra.

  • Total Ekuitas Astra: Rp 271,50 triliun (naik dari Rp 250,42 triliun)

  • Return on Equity (ROE): 16%

📌 Kesimpulan: Nilai perusahaan bertambah, dan investor mendapatkan pengembalian yang baik.


5. Apakah Astra Perusahaan yang Sehat Secara Keuangan?

Untuk mengetahui apakah Astra sehat secara finansial, kita bisa melihat beberapa rasio keuangan:

  1. Current Ratio (Likuiditas)Aset Lancar / Liabilitas Jangka Pendek
    176,93 / 133,30 = 1,33 (stabil dibanding tahun lalu)
    📌 Astra punya cukup uang untuk membayar kewajiban jangka pendek.

  2. Debt to Equity Ratio (DER - Rasio Utang terhadap Ekuitas)Total Liabilitas / Total Ekuitas
    201,43 / 271,50 = 0,74 (turun dari 0,78 tahun lalu)
    📌 Astra memiliki rasio utang yang aman.

  3. Return on Equity (ROE - Pengembalian Modal Pemegang Saham)Laba Bersih / Total Ekuitas
    43,42 / 271,50 = 16%
    📌 Astra memberikan keuntungan yang cukup tinggi bagi pemegang sahamnya.


Kesimpulan Akhir

Astra memiliki aset besar dan terus bertumbuh.
Utangnya masih dalam batas aman.
Ekuitas meningkat, menunjukkan bisnis yang sehat.
Beban utang jangka pendek meningkat, perlu dikelola lebih baik.

📌 Kesimpulan: Astra masih merupakan perusahaan yang kuat secara keuangan dan layak untuk investasi jangka panjang.


💬 Bagaimana menurut Anda? Apakah Astra tetap menjadi pilihan investasi menarik?

Posting Komentar untuk "Analisis Laporan Neraca Keuangan Pada Laporan Keuangan ASII Triwulan IV Tahun 2024"